Membela Dakwah Salafiyah dan Ulama Umat dari Kenistaan Pemikiran Firanda (Bagian Pertama)

Membela-Dakwah-Salafiyah-dan-Ulama-Umat-dari-Kenistaan-Pemikiran-Firanda-Bagian-PertamaDalam sebuah hadits, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُؤْمِنُ غِرٌّ كَرِيمٌ، وَالْفَاجِرُ خِبٌّ لَئِيمٌ

“Seorang mukmin adalah ghirrun ‘gampang tertipu’ lagi dermawan, sedangkan seorang fajir adalah khibbun ‘penipu’ lagi la`îm ‘keji, hina, rendahan’.” [1]

Di antara tabiat seorang mukmin adalah gampang tertipu dan kurang menangkap adanya kejelekan dan tidak membahas kejelekan itu. Bukan karena dia tidak bisa mengetahui kejelekan tersebut, melainkan karena kedermawanan jiwanya dan akhlaknya yang mulia. Itulah makna ghirrun. Sedangkan khibbun maknanya adalah kebalikan makna ghirrun.

Hadits di atas mungkin bisa menggambarkan keadaan yang menimpa Saya terhadap perbuatan Ustadz Firanda -semoga Allah Ta’âla memberi hidayah kepadanya dan membimbingnya ke jalan yang lurus-.

Sudah sekian lama Saya mengetahui pemikiran-pemikiran Ustadz Firanda yang menyimpang. Juga Saya mengetahui bahwa, di antara kawan-kawannya, Ustadz Firanda inilah yang pemikirannya paling parah dan jalannya paling jelek.

Saya menganggap bahwa Ustadz Firanda ini bukanlah orang yang layak ditanggapi, apalagi dibantah. Semua orang yang pernah menasihatinya telah memaklumi akan Ustadz Firanda, bahwa beliau adalah orang yang gemar mendebat, kurang akal, dan keras kepala.

Di antara makar Ustadz Firanda adalah mendatangi guru kami, Syaikh Shalih Al-Fauzân -semoga Allah Ta’âlâ selalu menjaga beliau dan memanjangkan umurnya dalam kebaikan Islam dan kaum muslimin- dan memberikan laporan sepihak kepada Syaikh Shalih Al-Fauzân hafizhahullâh. Setelah mendapat hal yang dianggap bisa mendukungnya, Ustadz Firanda menyebarkan hal tersebut di internet di bawah judul “ADA APA DENGAN RADIO RODJA & RODJA TV? (Nasehat Syaikh Al-’Allaamah Sholeh Al-Fauzaan hafizohullah agar para dai ahlus sunnah bersatu)” dengan menarik beberapa kesimpulan aneh sembari dia sendiri sebenarnya tidak mengindahkan wejangan Syaikh Al-Fauzân hafizhahullâh.

Kendati demikian, Saya masih berbaik sangka bahwa mungkin benar Ustadz Firanda dan kawan-kawan di Rodja menginginkan kebaikan dan akan memperbaiki kesalahan-kesalahan mereka. Dibangun di atas sangkaan baik tersebut dan paksaan Ustadz Firanda untuk membantahnya, Saya pun menurunkan tulisan dengan judul “Ada Apa dengan Radio Rodja dan Rodja TV? (Siapkah Anda Mendengar Jawaban?)”.

Insya Allah, kandungan bantahan tersebut akan Saya susun kembali dalam bantahan-bantahan yang akan datang.

Ketika Ustadz Firanda menarik kembali tulisannya, Saya menganggap hal tersebut sebagai suatu tanda kebaikan.

Waktu terus bergulir bersama dengan kesibukan Saya yang padat. Akan tetapi, alhamdulillah, Saya akhirnya menemukan waktu untuk menulis surat kepada guru kami, Syaikh Shalih Al-Fauzân hafizhahullâh.

Surat tersebut Saya kirim melalui e-mail dengan perantara salah seorang ikhwah -semoga Allah Ta’âlâ membalas kebaikan untuknya-, dan jawaban Syaikh Saya terima langsung tatkala Saya mengunjungi beliau di kantor Al-Lajnah Ad-Dâ`imah di Tha`if.

Setelah Saya pulang ke Indonesia, pada Jum’at, 28 Juni 2013, Saya mengirim surat Saya beserta jawaban Syaikh Al-Fauzân hafizhahullâh kepada Ustadz Firanda melalui e-mail, dengan harapan agar Ustadz Firanda dan siapa saja yang sepemikiran dengannya mengambil manfaat dari surat tersebut dan jawaban Syaikh.

Pada hari itu, juga Ustadz Firanda menjawab sebagai berikut, “Alhamdulillah antum telah kirim surat ke syaikh fauzan hafizohullaoh, hanya saja yang ana syangkan antum tidak mengabarkan ke ana surat tersebut untuk kita susun bersama sebelum antum kirim ke syaikh sholeh. Tdk sebagaimana yg kita sepakati, akan tetapi alhamdulillah jawaban syaikh sudah jelas, dan harap antum laksanakan wasiat syaikh.”

Saya melihat ada hal aneh dari ungkapan di atas maka Saya membalasnya pada tanggal yang sama sebagai berikut,

“Subhanallahu! Hal yang tidak masuk akal ketika antum mendatangi Syaikh dan memberi data sepihak, lalu ketika memberi jawaban antum mengharuskan ana untuk menyusun jawaban dengan menyertakan antum. Hal tersebut tidak pernah ana sepakati dengan antum. Yang ana sampaikan kepada antum adalah setelah ana membuat jawaban kepada Syaikh, kita boleh duduk untuk menyusun hal yang perlu dipertanyakan bila memang dipandang ingin memperbaiki.

Kemudian ana mengharap antum dan ikhwah di Rodja untuk memperhatikan catatan-catatan syar’iy yang ana berikan kepada Syaikh, karena saya tidak memahami ada dari keterangan Syaikh menyalahkan catatan yang ana berikan, dan beliau menghargai apa yang telah ana lakukan dengan doa beliau di akhir jawaban, dan setelah menerima jawaban, ana juga menjumpai beliau di Thaif dan beliau sama sekali tidak mengesankan ada kesalahan dari catatan yang ana berikan, namun beliau dalam jawabannya memberikan apa yang beliau pandang baik untuk arahan dakwah ana di masa mendatang.

Ana telah mengingatkan antum masalah Abu Nida, tapi masih saja hal yang sama berulang dengan keberadaan Syaikh Sa’ad memberi ceramah di Jamilurrahman, seakan-akan tidak ada kecemburuan terhadap suatu hal yang membahayakan dakwah salafiyah. Wallahul Musta’an.”

Sudah merupakan tabiat seorang Ahlus Sunnah untuk cinta hidayah kepada seseorang dan agar orang itu kembali ke jalan yang lurus. Saya juga masih membuka waktu untuk duduk dengan mereka menuju kepada arah perbaikan jika mereka memang serius untuk hal tersebut.

Demikian pula, sebagian kawan di Jakarta meminta izin untuk menyerahkan surat Saya ke Syaikh Shalih Al-Fauzân tersebut kepada sebagian ustadz pemateri di Rodja -yang memang meminta surat itu-. Tentunya Saya mengizinkan dengan harapan agar mereka mendapat hidayah dan memperbaiki kesalahan mereka.

Alhamdulillah, Saya merasa tenang dengan tahdzir Saya terhadap Rodja dengan kalimat-kalimat ringkas yang telah tersebar, dan Saya tidak perlu membuat bantahan untuk Ustadz Firanda lagi karena memang dari awal Saya tidak pernah berselera untuk melayaninya.

Saya juga tidak berniat untuk menerjemahkan surat Saya –sebagaimana Ustadz Firanda telah lancang melakukannya-. Kalau suatu saat Saya harus memberi penjelasan rinci, tentu akan Saya bahasakan dengan bahasa yang cocok untuk dibaca oleh khalayak umum tanpa mengurangi kandungan dan maknanya, bahkan mungkin masih banyak hal yang perlu Saya tambahkan.

Waktu terus bergulir hingga, pada Kamis, 3 Oktober 2013, Ustadz Firanda kembali bersurat, “Aslamu’laikum, ustadz insya Allah ana akan posting kembali tulisan tentang ada apa dengan radio rodja, mengingat kawan-kawan antum berbicara seenaknya tentang radiorodja yg menebarkan sunnah. kalau antum ingin posting kembali tulisan bantahan antum tafaddol. Oh iya atau bila perlu dan sangat perlu antum terjemahkan surat antum ke syaikh sholeh fauzam, agar menjadi pembelajaran. Jika antum tdk punya waktu dan kesempatan insya Allah nanti ada yang nerjmahkan. Baarokallahu fiik”.

Saya menjawabnya sebagai berikut,

“وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Insya Allah saya mengamalkan Nasihat Syaikh Al-Fauzan untuk saya, kalau terjadi kesalahan yang perlu diingatkan, tentu saya akan membantahnya dengan batasan yang dinasihatkan oleh Syaikh.

Tahdzir yang antum singgung dari orang lain, saya rasa bukan keadilan mengaitkannya dengan saya.

Tapi saya nasihatkan setiap orang untuk ‎menghormati kebenaran dan nasihat Ahlul Ilmi.

Saya tidak mengetahui Syaikh Al-Fauzan Menyalahkan keritikan saya terhadap Rodja. Juga ada kalam dari Syaikh Rabi’ dan Syaikh Ubaid Al-Jabiry sebagaimana yang antum ketahui, sebaiknya seluruh hal tersebut menjadi ainul I’tibar.

Kalau memang ada hal yang harus diperbaiki, silakan diterima dengan sikap seorang yang mengenal Sunnah dalam menghormati kebenaran. Jika ada hal yang antum anggap keliru, silakan diselesaikan di tingkatan ulama agar penyelesaiannya lebih jelas, lebih diterima oleh semuanya, dan lebih menjaga kehormatan para ulama. Semoga Allah membimbing kita semua di atas jalan yang lurus.”

Ustadz Firanda kembali membalas, “Jazaakallahu khoiron ustadz, tentunya segala masukan jika memang merupakan masukan yg benar dan disepakati maka akan sangat mudah diterima radiorodja. Adapun tuduhan ngawur tanpa bukti dan dipaksa paksakan, atau mengkait-kaitkan dengan paksa terhadap takfiriyin dan yang lainnya, atau memaksakan pendapat masalah khilafiyah maka tentu tdk ada pemaksaan terhadap radiorodja. Baarokallahu fiikum wa nafa’allahu bikum.”

Sebenarnya, solusi yang Saya berikan Saya anggap sudah cukup baik sebab sudah banyak ulama yang men-tahdzir Rodja. Oleh karena itu, bila merasa keberatan, Ustadz Firanda (dan siapa saja yang sepemikiran dengannya) boleh langsung mendatangi ulama-ulama tersebut atau menghubungi ulama yang selama ini memberi andil dalam penyajian materi di Rodja agar terjadi komunikasi antara ulama yang men-tahdzir dan yang mendukung. Kedua belah pihak yang berada di Indonesia -yang men-tahdzir dan yang di-tahdzir- tentunya harus bersiap memberi data jika para ulama tersebut memerlukan data itu.

Demikianlah anggapan Saya jika Ustadz Firanda memang menghendaki kebaikan dan menghargai kebenaran serta menghormati para ulama.

Saya mengira bahwa Ustadz Firanda baru berniat membuat bantahan atau hal semisal itu. Namun, sehari setelah itu, tepatnya pada 4 Oktober 2013, Ustadz Firanda mengeluarkan tulisan baru dengan judul, “Ada Apa Dengan Radio Rodja & Rodja TV (bag 2)? – Surat Al-Ustadz Dzulqornain Kepada Syaikh Sholeh Al-Fauzaan.”

Saya memuji Allah Subhânahu wa Ta’âlâ yang menampakkan isi hati orang ini sehingga tampak jelas keinginan dia yang sebenarnya serta tiada keraguan terhadap makar dan tipu dayanya.

Pada mulanya, ketika tulisan Ustadz Firanda tersebut Saya baca, Saya tidak berselera untuk membantah tulisan itu. Beberapa Ustadz yang telah mengenal baik watak Ustadz Firanda juga menasihatkan untuk tidak menanggapi tulisan tersebut. Pada waktu itu pula, Saya sedang sibuk mempersiapkan perjalanan ke Arab Saudi guna menunaikan ibadah haji.

Selanjutnya, Ustadz Firanda menyambung tulisan-tulisannya hingga bagian ke-6, yang mengandung pemikiran sesat terhadap manhaj Salafy dan kedustaan jelas terhadap para ulama. Hal tersebut memaksa Saya untuk menulis bantahan ini sebagai pembelaan terhadap manhaj Salafy dan para ulama Sunnah. Dari tulisannya, tampak sekali bahwa Ustadz Firanda sangat bangga jika ada yang membantahnya.

Saya juga memuji Allah Ta’âlâ yang menampakkan kedok Ustadz Firanda dalam tulisan-tulisannya sehingga semakin tampak jelas inti permasalahan terhadap banyak ustadz yang sebelumnya masih berharap agar Ustadz Firanda, dan orang lain yang sepemahaman dengannya, masih bisa diperbaiki.

Siapa saja yang membaca semua tulisan Ustadz Firanda tentang pembelaannya terhadap Rodja akan mendapati Ustadz Firanda ini sebagai orang yang kurang akal dan jelek pemahamannya disertai dengan keberaniannya berdusta tanpa rasa malu.

Berikut beberapa poin yang menjelaskan hal tersebut.

 

Pertama: Seputar Penerjemahan Surat Saya

Saya tidak melarang siapa saja yang ingin mengambil faidah dari tulisan Saya kepada Syaikh Shalih Al-Fauzân hafizhahullâh tentang orang-orang Rodja dalam skala terbatas, sebagaimana Saya juga memberi surat Saya beserta jawaban Syaikh kepada beberapa orang ustadz agar ustadz-ustadz tersebut mengambil manfaat dari surat itu. Namun, untuk penyebaran secara umum, Saya perlu meminta izin secara khusus dari Syaikh karena memang surat tersebut bersifat pribadi. Inilah salah satu adab yang tidak pernah dipikirkan oleh Ustadz Firanda. Sebagaimana penyebutan pembicaraan dengan Syaikh pada bagian pertama tulisannya ketika awal kali mendatangi Syaikh, Ustadz Firanda juga tidak pernah menyebut izin merekam dan menyebarkan pembicaraan Syaikh. Padahal, Kami sangat mengetahui salah satu kebiasaan Syaikh yang tidak mau direkam dalam hal-hal yang seperti itu.

Dimaklumi pula bahwa Saya menulis surat tersebut kepada seorang alim dengan bahasa dan penyampaian yang tentunya akan dimaklumi oleh orang-orang yang berilmu, dengan bentuk yang lebih transparan agar diharapkan ada nasihat dan wejangan jika memang ada hal yang perlu diperbaiki.

Setiap orang yang berakal akan memahami bahwa, dalam surat tersebut, ada beberapa hal yang perlu dibahasakan dengan bahasa yang cocok untuk dibaca oleh khalayak umum. Kelihatannya, Ustadz Firanda yang berakal pendek ini tidak berpikir ke arah sana.

Karena Ustadz Firanda telah lancang dalam menerjemah dan menyebarkan surat tersebut, ada dua hal yang perlu Saya ingatkan:

-          Bukanlah kebiasaan Saya di depan umum untuk menyebut siapa saja yang meminta nasihat kepada Saya, siapa saja yang sering menghadiri pengajian, dan seterusnya, baik dari kalangan orang penting, pembesar negara, maupun kalangan lainnya. Adalah hal wajar jika Saya menyebut sebagian orang kepada Syaikh Shalih Al-Fauzân dengan harapan agar mendapat nasihat dan wejangan kalau memang ada hal yang perlu diperbaiki. Berbeda dengan Ustadz Firanda yang gemar bercerita bahwa dia telah bertemu dengan Menteri Fulan dan selainnya sebagaimana yang tampak dalam beberapa tulisannya.

-          Dalam penyebutan nama dan yayasan di khalayak umum, Saya hanya dalam batasan seorang dai yang memperingatkan umat terhadap hal yang bisa membahayakan mereka dari sisi keagamaan. Karena, seorang dai bukanlah pemerintah bukan pula penguasa yang bisa memenjarakan atau menjatuhkan sanksi hukum. Hal ini telah dijelaskan oleh Syaikh Shalih Al-Fauzân dalam jawaban beliau, “Karena engkau tidak berkuasa untuk melarang orang yang menyelisihi.”

Berkaitan dengan Ustadz Abu Nida, sebagian asatidzah yang pernah mengajar di Ma’had Jamilurrahman -yang juga merupakan guru-guru Ustadz Firanda dahulu- telah menulis dalam bahasa Arab bukti-bukti kuat hubungan Ustadz Abu Nida dengan orang-orang yang menganut paham takfiry. Insya Allah, tulisan tersebut akan disampaikan kepada ulama-ulama yang biasa mendatangi ma’had Ustadz Abu Nida sebagai nasihat dan bahan masukan. Semoga Allah Ta’âlâ memudahkan hal ini.

 

 

Kedua: Memahami Jawaban Syaikh dengan Seenaknya Sendiri

Jawaban guru kami, Syaikh Shalih Al-Fauzân, Saya terjemahkan sebagai berikut.

Wa’alaikumussalâm Warahmatullâhi Wabarakâtuh. Arahan (yang diminta) adalah sebagai berikut,

1. Hendaknya engkau terus berlanjut di atas jalanmu dan tidak menoleh atau memperhatikan sanggahan-sanggahan para penyanggah, kecuali sanggahan yang benar lagi bermanfaat maka ambilah hal tersebut karena kebenaran adalah barang hilang milik orang yang beriman.

2.  Janganlah engkau masuk bersama manusia dalam pergulatan dan pertikaian yang akan menyibukkanmu dari melanjutkan jalanmu.

3. Janganlah engkau sibuk mencela pribadi-pribadi atau jam’iyyah-jam’iyyah. Adalah hal yang memungkinkan bagimu untuk nasihat yang bersasaran tepat lagi hikmah. (Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik) disertai dengan kesabaran.

4. Jawablah syubhat-syubhat dengan ilmu dan hikmah serta penjelasan terhadap kebenaran karena engkau tidak berkuasa untuk melarang orang yang menyelisihi.

Semoga Allah memberi taufiq kepadamu dan memberkahi usaha-usahamu.

Ditulis oleh:

Shâlih bin Fauzân Al-Fauzân

ttd

3/8/1434 H

Dalam memahami jawaban Syaikh Al-Fauzân di atas, sebagaimana biasanya Ustadz Firanda menarik kesimpulan aneh. Setelah menyebutkan poin ke-2 dan ke-3 jawaban Syaikh, dengan bangga dan secara tendensius, Ustadz Firanda berkata, “Harapan kami Al-Ustadz Dzulqornain menjalankan washiat Syaikh Sholeh Al-Fauzan, untuk tidak sibuk mencela para dai dan yayasan-yayasan.” (Demikian dengan cetak besar dari Ustadz Firanda dalam tulisannya di http://www.firanda.com/index.php/artikel/manhaj/534-ada-apa-dengan-radio-rodja-rodja-tv-bag-2-surat-al-ustadz-dzulqornain-kepada-syaikh-sholeh-al-fauzaan).

Untuk mengungkap pemahaman pendek Ustadz Firanda, Saya perlu menjelaskan beberapa perkara:

Pertama, sangat tampak bahwa Ustadz Firanda hanya mencari apa-apa yang mendukung dirinya saja. Ustadz Firanda hanya memperhatikan poin ke-2 dan ke-3 saja dengan memberi garis bawah dan cetak besar seenaknya, padahal dalam tulisan tangan Syaikh Al-Fauzân tidak terdapat garis bawah dan cetak besar. Namun, Saya memaklumi hal tersebut dari Ustadz Firanda, yang memang perlu diberi banyak pelajaran seputar etika penulisan.

Kedua, Ustadz Firanda lupa bahwa poin pertama yang Syaikh sebutkan adalah bahwa beliau memuji jalan dakwah yang Saya tempuh dengan ucapan beliau, “Hendaknya engkau terus berlanjut di atas jalanmu ….” Lalu, pada akhir jawaban, Syaikh mendoakan kebaikan untuk Saya dengan ucapan beliau, “Semoga Allah memberi taufiq kepadamu dan memberkahi usaha-usahamu.”

Dalam e-mail kepada Ustadz Firanda, Saya telah menyebutkan, “Kemudian ana mengharap antum dan ikhwah di Rodja untuk memperhatikan catatan-catatan syar’iy yang ana berikan kepada Syaikh, karena saya tidak memahami ada dari keterangan Syaikh menyalahkan catatan yang ana berikan, dan beliau menghargai apa yang telah ana lakukan dengan doa beliau di akhir jawaban, dan setelah menerima jawaban, ana juga menjumpai beliau di Thaif dan beliau sama sekali tidak mengesankan ada kesalahan dari catatan yang ana berikan, namun beliau dalam jawabannya memberikan apa yang beliau pandang baik untuk arahan dakwah ana di masa mendatang.”

Namun, seperti biasanya, Ustadz Firanda keras kepala dan tidak mau tahu.

Ketiga, dalam menyebutkan nama orang-orang yang dibantah atau orang yang menyelisihi, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam memberi dua petunjuk. Ini adalah kaidah dalam penyebutan nama ketika membantah atau men-tahdzir.

Pada kebanyakan keadaan, beliau shallallâhu ‘alaihi wa sallam tidak menyebut nama orang yang dijelaskan kesalahannya sebagaimana sabda beliau dalam beberapa kejadian,

مَا بَالُ أَقْوَامٍ قَالُوا كَذَا وَكَذَا

“Bagaimanakah keadaan suatu kaum yang berkata begini dan begini.” [2]

Terkadang nama disebutkan jika diperlukan sebagaimana dalam hadits Abu Humaid As-Sâ’idy radhiyallâhu ‘anhu bahwa beliau berkata,

اسْتَعْمَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلاً مِنَ الْأَسَدِ، يُقَالُ لَهُ: ابْنُ اللُّتْبِيَّةِ عَلَى الصَّدَقَةِ، فَلَمَّا قَدِمَ قَالَ: هَذَا لَكُمْ، وَهَذَا لِيْ أُهْدِيَ لِيْ، قَالَ: فَقَامَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْمِنْبَرِ، فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ، وَقَالَ: مَا بَالُ عَامِلٍ أَبْعَثُهُ فَيَقُوْلُ: هَذَا لَكُمْ، وَهَذَا أُهْدِيَ لِيْ؟! أَفَلَا قَعَدَ فِيْ بَيْتِ أَبِيْهِ أَوْ فِيْ بَيْتِ أُمِّهِ حَتَّى يَنْظُرَ أَيُهْدَى إِلَيْهِ أَمْ لَا؟! وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ! لَا يَنَالُ أحدٌ مِنْكُمْ مِنْهَا شَيْئاً إِلَّا جَاءَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَحْمِلُهُ عَلَى عُنُقِهِ، بَعِيْرٍ لَهُ رُغَاءٌ، أَوْ بَقَرَةٍ لَهَا خُوَارٌ، أَوْ شَاةٍ تَيْعَرَ، ثُمَّ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى رَأَيْنَا عُفْرَتَيْ إِبْطَيْهِ، ثُمَّ قَالَ: اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ؟ مَرَّتَيْنِ

“Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mempekerjakan seorang lelaki, dari (Bani) Asad -yang dikenal dengan nama Ibnul Lutbiyyah-, untuk memungut zakat. Tatkala lelaki tersebut datang, ia berkata, ‘Ini untuk kalian, sedang yang ini dihadiahkan untukku.’ Maka Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam berdiri di atas mimbar lalu menyanjung Allah dan memuji-Nya kemudian berkata, ‘Bagaimanakah kedudukan seorang pekerja yang Saya utus, lalu dia berkata, ‘Ini untuk  kalian, dan ini dihadiahkan untukku? Tidakkah lebih baik ia duduk, di rumah ayahnya atau di rumah ibunya, menunggu hingga mengetahui apakah ada yang dihadiahkan untuknya atau tidak?! Demi yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya! Tidak seorang pun yang mendapat sesuatu dari hal tersebut, kecuali bahwa ia akan datang dengan sesuatu, pada hari kiamat, dalam keadaan menyandang sesuatu itu di atas lehernya: apakah itu unta yang bersuara, sapi yang bersuara, atau kambing yang mengembik.’ Kemudian, beliau mengangkat kedua tangannya, hingga kami melihat bulu ketiaknya, lalu berkata sebanyak dua kali, ‘Ya Allah, apakah Saya telah menyampaikannya?’.” [3]

Ada beberapa hadits lain yang disebutkan oleh guru kami, Syaikh Muqbil Al-Wâdi’iy rahimahullâh, dalam kitab beliau, Al-Jâmi’ Ash-Shahîh, 1/181-185 dalam bab “Tasmiyatul Majrûh Idzâ Uhtîja Ilâ Dzâlika ‘Penyebutan Nama Orang yang Di-jarh Bila Hal Tersebut Diperlukan’ ”.

Setelah penerangan kaidah di atas, hendaknya Ustadz Firanda tidak mengesankan bahwa Syaikh Shalih Al-Fauzân menyelisihi tuntunan yang Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam contohkan, yaitu bahwa sama sekali tidak boleh menyebut nama atau yayasan orang-orang yang dibantah.

Keempat, di antara jasa agung yang dilakukan oleh guru kami, Syaikh Shalih Al-Fauzân, adalah membantah tulisan atau pemikiran menyimpang yang dimuat di media massa. Beliau banyak membantah hal tersebut di koran dan atau media lainnya, serta sangat sering beliau membantah dengan menyebut nama-nama si penulis. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla membalas kebaikan untuk beliau dalam membela kemurnian agama Islam.

Demikian pula, Syaikh Shalih Al-Fauzân hafizhahullâh memberi kata pengantar untuk kitab Al-Irhâb karya guru kami, Syaikh Zaid bin Muhammad Al-Madkhaly hafizhahullâh, yang memuat banyak nama dai yang menyimpang.

Penyebutan nama orang yang dibantah ini juga merupakan amalan Syaikh Ibnu Bâz, Syaikh Al-Albâny, Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbâd, dan ulama Sunnah lainnya -semoga Allah Ta’âlâ merahmati yang telah meninggal dan menjaga yang masih hidup-.

Setelah keterangan di atas, tentu akan tampak jelas ambisi Ustadz Firanda agar bisa menahan Saya untuk men-tahdzir orang-orang yang berpemikiran menyimpang seperti dirinya dengan seenaknya memahami arahan Syaikh Shalih Al-Fauzân untuk Saya.

Kelima, pesan Syaikh Shalih Al-Fauzân, “Janganlah engkau sibuk mencela pribadi-pribadi atau jam’iyyah-jam’iyyah,” tentu merupakan nasihat berharga bagi Saya. Insya Allah, Saya termasuk orang-orang yang mengambil wasiat beliau.

Wasiat seperti ini tidak hanya Kami dengar dari Syaikh Shalih Al-Fauzân hafizhahullâh. Guru kami, Syaikh Muqbil rahimahullâh, sering berucap, “Kami dalam membantah ahlul bid’ah hanyalah seperti orang yang berjalan sambil menampar siapa saja yang perlu diberi pelajaran.”[4]

Adapun sikap seseorang yang hanya menyibukkan diri untuk mencela pribadi orang lain dan jam’iyyah adalah hal yang tidak dicontohkan oleh para ulama.

Juga, memang salah satu arahan Syaikh Shalih Al-Fauzân kepada Saya, pada sebagian kesempatan, adalah untuk tidak berbenturan dengan orang-orang yang menyelisihi jalan Sunnah sebagaimana beliau pernah mengkhawatirkan Saya untuk berbenturan dengan para takfiriyyin ketika Saya menulis buku Antara Jihad dan Terorisme. Saya sangat memahami makna kekhawatiran beliau. Oleh karena itu, Saya menyampaikan bahwa hal tersebut tidaklah seperti kekhawatiran beliau, dan memang keadaan negeri Indonesia sangat memerlukan tulisan yang seperti itu.

Keenam, kalau memang seperti penyebutan Ustadz Firanda bahwa tidak boleh mencela dai-dai dan yayasan-yayasan, seharusnya nasihat itu juga dijadikan sebagai pelajaran untuk Ustadz Firanda sendiri ketika menulis tentang Saya dan dai-dai lainnya, bahkan seharusnya Ustadz Firanda mengambil pelajaran untuk tidak mencela ulama dan berdusta terhadap mereka sebagaimana yang dia lakukan di salah satu bagian dari enam bagian tulisannya.

 

 

Ketiga: Adab Jelek terhadap Para Ulama dan Sifat Bangga Diri Lagi Keras Kepala

Sudah merupakan tabiat seorang Ahlus Sunnah untuk cinta hidayah kepada seseorang dan agar orang itu kembali ke jalan yang lurus. Itulah yang dilakukan oleh sebagian asatidzah yang dahulu merupakan guru-guru di Ma’had Jamilurrahman, seperti Ustadz Shalih Su’aidy, Ustadz Ibnu Yunus dan Ustadz Rezki. Sebagian dari ustadz-ustadz tersebut pernah mengajar Ustadz Firanda.

Asatidzah itu meninggalkan Ma’had Jamilurrahman di atas ilmu tentang penyimpangan orang-orang di Ma’had Jamilurrahman dan berusaha menasihati orang lain yang masih ikut bersama orang-orang tadi. Termasuk di antara mereka yang telah dinasihati oleh asatidzah tersebut adalah Ustadz Firanda.

Sudah berulang kali Ustadz Firanda bertaubat di depan sebagian asatidzah tersebut tentang masalah Ihyâ`At-Turâts. Namun, setiap kali bertaubat, dia malah kembali kepada pendapat pertamanya. Hingga hari ini, Ustadz Firanda masih saja membela Ihyâ` At-Turâts.

Salah satu ciri Ustadz Firanda ketika mendebat guru-gurunya adalah membabi-buta, bersuara lantang, dan merasa dirinya lebih tinggi. Demikianlah tutur kisah dari asatidzah tersebut.

Bagi Saya, keburukan adab Ustadz Firanda seperti itu bukanlah hal yang mengherankan. Dalam tulisan-tulisannya yang terakhir, dia menunjukkan keburukan adab yang lebih daripada itu dengan “membenturkan” sebagian ulama dengan ulama lainnya, mencela sejumlah ulama Salafiyyin, dan bahkan lupa diri dengan melakukan bantahan penuh dusta terhadap guru kami, Syaikh Rabî’ bin Hâdy Al-Madkhaly -semoga Allah Ta’âlâ selalu menjaga beliau dari kejelekan orang-orang jahil-.

Dari Abu ‘Âshim Adh-Dhahhâk bin Makhlad An-Nabîl, beliau berkata,

“Saya mendengar Sufyân At-Tsaury, sementara majelis beliau telah dihadiri oleh seorang pemuda dari ahli ilmi, yang dia merasa memimpin, berbicara, dan bersombong dengan ilmunya terhadap orang yang lebih tua daripada dia. Sufyân pun marah seraya berkata,

لَمْ يَكُنِ السَّلَفُ هَكَذَا كَانَ أَحَدُهُمْ لا يَدَّعِي الإِمَامَةَ، وَلا يَجْلِسُ فِي الصَّدْرِ حَتَّى يُطْلَبَ هَذَا الْعِلْمَ ثَلاثِينَ سَنَةً، وَأَنْتَ تَتَكَبَّرُ عَلَى مَنْ هُوَ أَسَنُّ مِنْكَ، قُمْ عَنِّي وَلا أَرَاكَ تَدْنُو مِنْ مَجْلِسِي

“Para Salaf tidaklah seperti ini. Tidaklah salah seorang dari mereka mengklaim kepemimpinan, tidaklah pula dia duduk di depan hingga dia menuntut ilmu ini selama tiga puluh tahun, sedangkan engkau merasa sombong terhadap orang yang lebih tua daripada engkau. Berdirilah engkau dariku, dan janganlah sampai Saya melihatmu mendekati majelisku.”

Abu ‘Âshim An-Nabîl berkata pula,

“Saya mendengar Sufyân berkata,

إِذَا رَأَيْتُ الشَّابَّ يَتَكَلَّمُ عِنْدَ الْمَشَايِخِ، وَإِنْ كَانَ قَدْ بَلَغَ مِنَ الْعِلْمِ مَبْلَغًا فَآيِسْ مِنْ خَيْرِهِ ؛ فَإِنَّهُ قَلِيلُ الْحَيَاءِ

‘Apabila engkau melihat anak muda -bagaimanapun dia telah mencapai tingkatan ilmu- berbicara di sisi para syaikh, putus asalah dari kebaikannya karena dia adalah orang yang kurang rasa malunya.’.”[5]

Ketika para penuntut ilmu dari kalangan Salafiyyin memperingatkan akan bahaya pemikiran Syaikh Ali Hasan Al-Halaby, hal itu karena para ulama besar telah berfatwa untuk men-tahdzir Syaikh Ali Hasan. Berbeda dengan Ustadz Firanda yang, tanpa rasa malu dan merasa diri sudah mencapai kedudukan tinggi, berani menarik kesimpulan-kesimpulan aneh tentang Syaikh Rabî’, bahwa Syaikh Rabî’ menganut pemahaman Khawârij dan berdusta terhadap para Salaf, sebagaimana yang Ustadz Firanda muntahkan dalam tulisan bagian ke-4 dan ke-6.

Mungkin banyak orang yang tidak tahu bahwa Syaikh Rabî’ hafizhahullâh adalah seorang profesor yang telah pensiun di Jamî’ah Islamiyyah, tempat Ustadz Firanda belajar saat ini. Sejumlah guru Ustadz Firanda adalah murid-murid Syaikh Rabî’, yakni Syaikh Shalih As-Suhaimy, Syaikh Abdurrazzaq Al-‘Abbâd, dan selainnya -semoga Allah menjaga mereka semua-.

Saya merasa bahwa agak sulit mengajarkan akhlak rasa malu kepada orang yang kurang akal seperti Ustadz Firanda.

Abu Hâtim Ibnu Hibbân Al-Busty rahimahullâh berkata, “Seseorang yang berakal wajib menetapi rasa malu, karena (rasa malu) adalah sumber akal dan benih kebaikan, sedangkan meninggalkan (rasa malu) adalah sumber kejahilan dan benih kejelekan. Rasa malu menunjukkan akal (seseorang) sebagaimana meninggalkan (rasa malu) menunjukkan kejahilan ….”[6]

Ibnul Qayyim berkata, “Adapun malu seseorang kepada dirinya merupakan malu jiwa mulia yang agung lagi berkedudukan tinggi dengan meridhai kekurangan untuk dirinya dan merasa cukup dengan hal yang di bawah. Maka, dia mendapati dirinya malu terhadap dirinya sendiri sehingga dia seakan-akan memiliki dua jiwa: salah satu (jiwa)nya malu terhadap (jiwa) lainnya. Inilah keberadaan malu yang paling sempurna. Apabila seorang hamba malu terhadap dirinya sendiri, dia akan lebih layak malu kepada orang lain.”[7]

Keadaan Ustadz Firanda ini juga mengingatkan Saya dengan sebuah kisah yang indah.

Disebutkan bahwa Abdul Malik bin Quraib Al-Ashma’iy rahimahullâh, salah seorang pakar bahasa Arab, memasuki sebuah perkampungan Badui dan mendapati seorang perempuan tua menangisi kambingnya yang diterkam oleh seekor serigala. Ternyata, serigala itu dia besarkan bersama kambingnya. Perempuan tersebut pernah menemukan anak serigala dan akhirnya dia besarkan bersama anak kambingnya. Ketika tumbuh besar, serigala itu malah menerkam kambing saudara susuannya sendiri maka perempuan tersebut mengucapkan beberapa syair yang mengandung hikmah,

بَقَرْتَ شُوَيْهَتِيْ وَفَجَعْتَ قَلْبِيْ                 وَأَنْتَ لِشَاتِنَا وَلَدٌ رَبِيبُ

غُذِيتَ بِدَرِّهَا وَرُبِيتَ فِينَا                       فَمَنْ أَنْبَاكَ أَنَّ أَبَاكَ ذِيبُ

إِذَا كَانَ الطِّبَاعُ طِبَاعَ سَوْءٍ                     فَلَيْسَ بِنَافِعٍ أَدَبُ الأَدِيب

“Engkau mencabik anak kambingku dan mengagetkan hatiku

Padahal engkau adalah anak tiri terhadap kambing kami.

Engkau tumbuh dengan susu (induknya) dan dipelihara di tengah kami,

Lantas siapa yang memberitakan kepadamu bahwa ayahmu adalah seekor serigala?

Jika itu adalah tabiat jelek,

(Ajaran) adab seorang ahli adab tidak akan bermanfaat.”[8]

Semoga Allah Subhânahu wa Ta’âlâ memberi hidayah kepada Kita semua menuju jalan yang lurus.

 

 

Keempat: Kedustaan terhadap Para Ulama

Kalau kritikan dan bantahan terhadap para ulama yang Ustadz Firanda tulis adalah hal yang benar, tentulah kebenaran akan diterima oleh setiap orang yang menghormati Sunnah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan manhaj Salaf. Sebab, para ulama Kami tidak pernah mengajari Kami untuk mengultuskan mereka, taklid, atau fanatik terhadap siapapun.

Akan tetapi, kenyataannya adalah bahwa tuduhan-tuduhan terhadap ulama tersebut adalah kedustaan yang nyata. Insya Allah, Kami akan menerangkan penjelasan khusus tentang kedustaan Ustadz Firanda dalam hal tersebut.

Sungguh tepat Ibnu ‘Asâkir tatkala berkata,

إِن لُحُوم الْعلمَاء رَحْمَة اللَّه عَلَيْهِم مَسْمُومَة وَعَادَة اللَّه فِي هتك أَسْتَار منتقصيهم مَعْلُومَة لِأَن الوقيعة فيهم بِمَا هم مِنْهُ برَاء أمره عَظِيم والتنَاول لأعراضهم بالزور والافتراء مرتع وخيم والاختلاق على من اخْتَارَهُ اللَّه مِنْهُم لنعش الْعلم خلق ذميم

“Sesungguhnya daging-daging para ulama -semoga Allah merahmati mereka- adalah beracun. Kebiasaan Allah yang menghinakan para penoda kehormatan mereka (ulama) adalah suatu hal yang telah dimaklumi. Sebab, mencela mereka dalam hal yang mereka berlepas darinya adalah perkara yang sangat besar, menjamah kehormatan mereka dengan kepalsuan dan kebohongan adalah persemaian yang jelek, dan kedustaan terhadap orang yang Allah pilih guna menyandang ilmu adalah akhlak tercela.” [9]

Dengan tulisan-tulisannya yang telah tersebar, banyak hal yang Allah singkap dari kenistaan pemikiran Ustadz Firanda ini sehingga menjadilah orang ini dikenal nilai dan harganya di kalangan Ahlul Haq. Muhammad bin Abdillah Al-Baghdâdy bersenandung,

إِذَا مَا الْمَرْءُ أَخْطَأَهُ ثَلَاثٌ            فَبِعْهُ وَلَوْ بِكَفٍّ مِنْ رَمَادِ

سَلَامَةُ صَدْرِهِ وَالصِّدْقُ مِنْهُ                    وَكِتْمَانُ السَّرَائِرِ فِي الْفُؤَادِ

“Apabila seseorang kehilangan tiga (sifat)

Juallah dia, walaupun hanya dengan harga segenggam debu.

(Tiga sifat itu adalah) keselamatan hati, kejujuran

Dan menyembunyikan rahasia (orang lain) di dalam hati.”[10]

 

 

Kelima: Pendek Akal dalam Memahami Ucapan Orang Lain

Yang aneh bin ajaib, Ustadz Firanda berkata, “Al-Ustadz menyatakan yang lebih maslahat tidak melarang orang awam untuk mendengar Radio Rodja, karena Radio Rodja ibarat orang fajir tapi bermanfaat bagi kaum muslimin. Al-Ustadz berkata kepada Syaikh Sholeh Al-Fauzaan ((Adapun orang-orang awam bisa jadi menurut kami yang lebih baik bagi mereka adalah tidak melarang mereka dari mendengar/menonton Rodja, dalam rangka meminimalkan keburukan, dan termasuk dalam bab “Sesungguhnya Allah akan menolong agama ini dengan orang fajir”))

Sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan hadits ini ((“Sesungguhnya Allah akan menolong agama ini dengan orang fajir”)) adalah kisah yang masyhur tentang seseorang yang sangat hebat dalam berperang dan banyak membunuh musuh, lalu diakhir hayatnya iapun bunuh diri karena tidak kuasa menahan rasa sakit akibat luka yang dialaminya (HR Al-Bukhari 3062 dan Muslim no 111). Adapun orang fajir dalam hadits ini maka mencakup orang kafir dan juga orang fasik sebagaimana penjelasan Ibnu Hajar (lihat Fathul Baari 7/474)

Yaa…mau bagaimana lagi, inilah hakikat penilaian al-Ustadz tentang Radio Rodja, ibarat seorang yang fajir/fasiq. Padahal diantara yang mengisi di Radio Rodja adalah Syaikh Abdurrozaq, Syaikkh Sa’ad Asy-Syatsri, Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili, Syaikh Bin Baaz, Syaikh Utsaimin, Syaikh Fauzan, para ustadaz-ustadz….kesimpulannya semuanya ibarat “ORANG FAJIR”.”

 

Tanggapan

Amatlah mengherankan bila seseorang yang merasa dirinya sangat berilmu, sudah berada pada kedudukan ulama, serta berani mendebat guru-gurunya dan Syaikh yang berada pada tingkatan guru dari Syaikh-Syaikhnya, justru akalnya pendek dan pemahamannya dangkal dalam memahami ucapan Saya, “dan termasuk dalam bab ‘Sesungguhnya Allah akan menolong agama ini dengan orang fajir’.”

Memang rumit memahamkan perkara yang sebenarnya sudah jelas kepada Ustadz Firanda ini. Seharusnya dia sudah belajar ilmu bahasa Arab dan ilmu ushul fiqih dengan baik sehingga bisa memahami seluk beluk bahasa yang berjalan dalam pembahasan ilmu agama.

Akan tetapi, tidaklah mengapa, Saya menerangkan sedikit cara menghubungkan suatu dalil atau perumpamaan untuk dua masalah yang berbeda dari sisi hukum dan hakikat karena suatu pengikat yang mirip antara keduanya.

Pertama, dalam Kitâbut Tauhîd, disebutkan,

وَلِاْبْنِ أَبِي حَاتِمٍ عَنْ حُذَيْفَةَ: (أَنَّهُ رَأَى رَجُلاً فِي يَدِهِ خَيْطٌ مِنَ الْحُمَّى فَقَطَعَهُ)، وَتَلَا قَوْلَهُ: وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ.

(Diriwayatkan) oleh Ibnu Abi Hâtim, dari Hudzaifah, (beliau berkata) bahwa beliau melihat seorang lelaki yang di tangannya ada benang untuk mengobati demam maka beliau memutus benang itu seraya membaca firman-Nya, “Dan sebagian besar di antara mereka itu tidaklah beriman kepada Allah, kecuali bahwa mereka berbuat syirik (kepada-Nya).” [Yûsuf: 106]

Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhâb rahimahullâh menyebutkan salah satu kandungan faidahnya, “Kesembilan: Tilawah Hudzaifah terhadap ayat (Surah Yusuf) menjadi bukti bahwa para shahabat berargumen dengan ayat-ayat Al-Qur`an berkaitan dengan syirik besar terhadap syirik kecil, sebagaimana penyebutan Ibnu ‘Abbâs pada ayat surah Al-Baqarah.”

Guru kami, Syaikh Shalih Al-Fauzân, menjelaskan, “Dibenarkan untuk berdalil dengan apa-apa yang diturunkan berkenaan dengan syirik besar guna menghukumi syirik kecil karena keumuman cakupan dalil tersebut.”

Kita semua memaklumi bahwa syirik akbar berbeda dengan syirik ashghar, tetapi kadang ulama berdalil dengan dalil tentang syirik akbar guna menghukumi syirik ashghar, karena suatu kesamaan yang mengikat antara keduanya, yaitu penyetaraan Allah Ta’âlâ dengan makhluk.

Kedua, pendalilan Imam Abu Qilâbah dan selainnya bahwa bahaya setiap bid’ah akan mengakibatkan kehinaan terhadap pelakunya dengan ayat yang berkaitan dengan orang-orang Bani Israil yang menyembah anak sapi,

إِنَّ الَّذِينَ اتَّخَذُوا الْعِجْلَ سَيَنَالُهُمْ غَضَبٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَذِلَّةٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُفْتَرِينَ

“Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan anak sapi (sebagai sembahannya) kelak akan menimpa mereka kemurkaan dari Rabb mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia. Demikianlah Kami membalas orang-orang yang membuat-buat kedustaan.” [Al-A’râf: 152]

Abu Qilâbah berkata, “Ini adalah balasan terhadap setiap orang yang berdusta hingga hari kiamat, (yaitu) Allah akan menghinakannya.”[11]

Kita memaklumi bahwa perbuatan menyembah anak sapi adalah kekafiran, sedang bid’ah kadang tergolong kekafiran, tetapi kadang pula tidak mengafirkan. Namun, ulama memakai dalil yang sama karena suatu kesamaan yang mengikat antara keduanya, yaitu mengadakan kedustaan terhadap Allah Ta’âlâ.

Ketiga, siapa saja yang memperhatikan tulisan-tulisan Ustadz Firanda dalam membela Rodja akan menilai layak kalau Saya berkata bahwa Ustadz Firanda ini seperti “kambing, walaupun terbang”.

“Kambing, walaupun terbang” adalah perumpamaan untuk orang yang tetap bersikukuh dan keras kepala setelah tampak hakikat sebenarnya. Kisahnya adalah dua orang yang melihat sesuatu yang hitam dari kejauhan. Orang pertama berkata, “Itu adalah burung gagak,” sedangkan orang kedua menyanggah, “Tidak, itu adalah kambing.” Larutlah keduanya dalam perdebatan hingga sesuatu yang hitam itu terbang. Pastilah, orang pertama bergembira dengan hakikat yang membuktikan kebenaran ucapannya. Akan tetapi, ternyata orang kedua berkata, “Tidak, itu adalah kambing, walaupun terbang!”

Itu hanyalah perumpamaan. Semoga Ustadz Firanda tidak lagi membuat suatu keanehan baru dengan mengatakan bahwa Dzulqarnain menyebutnya sebagai kambing.

Demikian pula, pembolehan Saya untuk mendengar radio Rodja bagi orang-orang awam pada keadaan tertentu dengan menggolongkan hal tersebut ke dalam bab sabda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Allah akan menolong agama ini dengan orang fajir,” kesamaan yang mengikat antara keduanya adalah bahwa ada manfaat yang dipetik dari suatu perkara, meskipun perkara itu sendiri menyandang hal tercela.

Setelah penjelasan di atas, akan tampak jelas bahwa ucapan Ustadz Firanda, “Padahal diantara yang mengisi di Radio Rodja adalah Syaikh Abdurrozaq, Syaikkh Sa’ad Asy-Syatsri, Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili, Syaikh Bin Baaz, Syaikh Utsaimin, Syaikh Fauzan, para ustadaz-ustadz….kesimpulannya semuanya ibarat “ORANG FAJIR”.” hanyalah kedustaan semata yang muncul dari pemahamannya yang buruk dan akalnya yang pendek. Oleh karena itu, janganlah heran jika Ustadz Firanda jatuh ke dalam kedustaan-kedustaan yang semisal ini sebagaimana kedustaannya yang Insya Allah akan kami terangkan dalam memahami ucapan-ucapan guru kami, Syaikh Rabî’ bin Hâdy Al-Madkhaly hafizhahullâh.

 

 

Keenam: Membela Ahli Batil dan Memuat Syubhat-Syubhat Ahli Batil

Di antara akal Ustadz Firanda yang ‘cerdas’ adalah pembelaan terhadap sejumlah ahli batil dan pemuatan syubhat-syubhat mereka dari dunia maya. Dari tulisan-tulisannya dalam membela Rodja, beberapa kali Ustadz Firanda menukil dari situs http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/ yang dikelola oleh Syaikh Ali Hasan Al-Halaby dan pengikutnya.

Mungkin kebanyakan ulama, yang men-tahdzir situs tersebut, tidak dianggap oleh Ustadz Firanda. Akan  tetapi, guru kami, Syaikh Shalih bin Sa’d As-Suhaimy hafizhahullâh -yang merupakan salah seorang ulama besar Madinah dan masih dianggap sebagai rujukan oleh Ustadz Firanda-, telah men-tahdzir situs tersebut dan menyebutnya sebagai situs-situs masybûhah ‘bersyubhat, tidak jelas’, juga beliau menyebutkan bahwa di dalamnya ada para pendusta yang mengarahkan pembicaraan beliau kepada makna-makna yang tidak beliau maksudkan. Silakan membaca http://www.sahab.net/forums/?showtopic=123261.

Memang hal yang mengherankan bahwa situs yang telah dicela oleh banyak ulama justru menjadi rujukan dan bacaan Ustadz Firanda. Mungkin Ustadz Firanda sudah menganggap bahwa dirinya besar dan telah dewasa sehingga tidak mengapa dia menyelisihi ulama yang men-tahdzir situs tersebut, atau ulama-ulama tersebut barangkali tidak masuk di dalam daftar ulama di sisi Ustadz Firanda.

Sudah lama Saya mengetahui adanya situs-situs yang punya perhatian dalam membela perusak dakwah Salafiyah seperti Ali Hasan, Abul Hasan Al-Mishry, dan selainnya. Situs-situs tersebut ada yang dalam versi bahasa Arab, seperti situs Ali Hasan, situs Al-Atsary, dan selainnya, atau dalam versi bahasa Indonesia, seperti situs Abul Jauza dan semisalnya. Selain itu, situs-situs tersebut sering mencela ulama yang jasa dan kebaikannya telah dikenal, juga para penuntut ilmu yang dikenal dengan sirah yang baik. Seakan-akan Saya melihat bahwa ulama dan para penuntut ilmu tidak menoleh kepada situs-situs tersebut sambil melantunkan dua bait syair,

يشتمني عبد بني مسمع             فصنت عنه النفس والعرضا

ولم أجبه لاحتقار له                 من ذا يعض الكلب إن عضَّا

“Saya dicela oleh budak milik Bani Misma’

Saya pun menjaga diri dan kehormatan

Saya tidak menjawabnya karena penghinaan terhadapnya

Siapakah yang sudi mengigit anjing yang menggigitnya?”

Kembali Allah Ta’âlâ menampakkan keadaan Ustadz Firanda, yang merasa bangga dengan dirinya dan lancang berdusta terhadap para ulama, tatkala dia mengambil kritikan dan syubhatnya dari situs-situs seperti itu. Sungguh menyedihkan bila seseorang, yang merasa dirinya melihat dan bisa mendebat ulama, dituntun jalannya oleh orang buta. Sungguh telah benar seorang penyair bijak yang berucap,

أعمى يقودُ بصيراً لا أبا لكمُ                 قد ضلَّ من كانت العميان تهديهِ

“Seorang buta menuntun orang yang melihat, -sungguh tiada ayah bagi kalian-

Amatlah sesat siapa saja yang orang-orang buta menjadi penuntunnya.”

Alhamdulillah, kritikan dan syubhat Ustadz Firanda dari situs-situs itu adalah kedustaan yang sudah basi dan telah lama tersingkap, bukanlah hal yang sulit untuk menjelaskannya dengan seizin Allah. Insya Allah, Saya akan menerangkan hal tersebut pada tempatnya.

 

 

Ketujuh: Benarkah Ustadz Firanda Pandai Menimbang Mashlahat dan Mafsadat Serta Mengenal Maqâshid Syariat?

Di antara “lagu” Ustadz Firanda yang unik adalah bahwa dia menganggap dirinya pandai menimbang antara mashlahat dan mafsadat, bahkan banyak menyalahkan ulama dan para penuntut ilmu yang dianggap tidak pandai menimbang antara kemashalahatan dan kemanfaatan dalam permasalahan tahdzir, hajr, dan selainnya.

Dari catatan-catatan yang telah berlalu, telah tampak akal Ustadz Firanda yang pendek dalam menimbang dan mengkritik suatu perkara, bahkan dalam memahami suatu bahasa yang sederhana.

Juga akan datang pembahasan-pembahasan yang lebih jelas menunjukkan bagaimana pemikiran-pemikirannya yang menyelesihi manhaj Salafy dalam banyak pembahasan serta kedustaan-kedustaannya terhadap para ulama.

Orang yang jujur dalam menilai akan mengetahui bahwa Ustadz Firanda telah merusak dirinya sendiri dengan tulisan dan bantahannya, yang manfaat tulisan tersebut tidak jelas dan justru membuat para pengkritiknya semakin yakin akan kenistaan pemikiran dan kedustaannya.

Tatkala dia memasang dirinya sebagai juru bicara dalam membela Rodja, hal itu justru akan menjadi bukti lebih jelas akan penyimpangan Rodja dengan membiarkan Ustadz Firanda menuangkan sejumlah pemikiran rusaknya. Artinya, di antara mashlahat yang ditimbulkan oleh Ustadz Firanda adalah bahwa siapa saja yang membantah Ustadz Firanda berarti hal itu juga bantahan untuk Rodja karena, secara tidak langsung, sikap diam Rodja adalah persetujuan akan pemikiran-pemikiran Ustadz Firanda.

Juga, di antara pertimbangan mashalat dan mafsadat Ustadz Firanda adalah bahwa dia melarang dan men-tahdzir terhadap sesuatu, tetapi ternyata dia sendiri telah jatuh ke dalam larangannya sebagaimana yang, Insya Allah, akan Saya terangkan dalam pembahasan Ustadz Firanda tentang menimbang dengan dua timbangan.

Abud Dardâ` radhiyallâhu ‘anhu berkata,

عَلامَةُ الْجَهْلِ ثَلاثٌ: الْعُجْبُ، وَكَثْرَةُ الْمَنْطِقِ فِيمَا لا يَعْنِيهِ، وَأَنْ يَنْهَى عَنْ شَيْءٍ وَيَأْتِيَهُ

“Tanda kejahilan ada tiga: ujub, banyak membicarakan hal yang tidak bermanfaat baginya, dan melarang dari sesuatu, tetapi dia sendiri melakukan hal itu.” [12]

Yang lainnya berkata,

“Seseorang yang takjub kepada dirinya sendiri menunjukkan kelemahan akalnya.” [13]

 

 

Kedelapan: Penggambaran Dusta Tentang Masalah Ihyâ` At-Turâts

Ustadz Firanda berkata, “Permasalahan mengenai Ihyaa At-Turoots telah saya bahas dengan panjang lebar, diantara perkataan saya ((…Demikian juga tatkala kita menghadapi permasalahan mengambil dana dari yayasan Ihyaa At-Turoots. Karena inilah yang menjadi permasalahan utama, bukan masalah apakah yayasan Ihyaa At-Turoots ini hizbi atau tidak, karena mayoritas yang ditahdziir dan dikatakan sururi adalah orang-orang yang tidak mengambil dana sama sekali, akan tetapi kena getahnya terseret arus tahdzir gaya MLM, yaitu barang siapa yang tidak mentahdziir si fulan maka dia juga sururi??!!. Jika kita sepakat bahwasanya Ihyaa At-Turoots adalah yayasan hizbi maka apakah yang mengambil dana otomatis menjadi sururi?,inilah permasalahannya.!!.”[14]

Tuduhan dusta ini sudah pernah Saya jawab sebagai berikut,

“Sekali lagi, Saya memberi waktu bagi Ustadz Firanda guna mendatangkan bukti tentang tuduhan yang jauh dari kejujuran dan kebenaran di atas.

Telah diketahui dari Saya, bahkan kadang sebagian kawan-kawan Saya sendiri mempermasalahkan sikap Saya, bahwa Saya memandang boleh mengambil dana dari Yayasan Ihyâ` At-Turâts apabila Yayasan Ihyâ` At-Turâts memberi tanpa syarat dan ketentuan.

Guru kami, Syaikh Muqbil Al-Wadi’iy, memperbolehkan hal tersebut sebagaimana yang Saya dengar dan Saya tanyakan langsung kepada beliau tentang masalah ini. Walaupun, belakangan ini, Saya mendengar -dari sebagian murid beliau- bahwa beliau tidak memperbolehkan hal itu secara mutlak karena kenyataan yang terjadi bahwa mereka pasti akan memberi syarat, meskipun syarat itu datang belakangan.

Demikian pula guru kami, Syaikh ‘Ubaid Al-Jâbiry. Dahulu, beliau memperbolehkan jika pemberian itu tanpa syarat, tetapi kemudian beliau melarang pengambilan tersebut secara mutlak.

Saya Perlu menegaskan kepada Ustadz Firanda bahwa Saya mengikuti para ulama yang men-tahdzir Ihyâ` At-Turâts karena kerusakan manhaj Ihyâ` At-Turâts dan berbagai kesalahan besar yang terjadi pada Ihyâ` At-Turâts.

Kami punya fakta-fakta tentang kerusakan dan bahaya Ihyâ` At-Turâts terhadap dakwah Salafiyah di Indonesia. Fakta-fakta tersebut tidak berkaitan dengan dana, tetapi punya keterkaitan dengan sebagian ustadz yang menjadi pemateri di Rodja.”

Insya Allah, Saya akan mengkhususkan pembahasan tersendiri tentang permasalahan ini pada tulisan-tulisan mendatang.

Ternyata pada bagian ke-3 tulisannya, “Si Halimah kembali kepada kebiasaan lamanya”: keras kepala dan tidak mau menerima peringatan. Ustadz Firanda kembali menuduh dengan redaksi yang lebih umum. Ustadz Firanda berkata, “…karena pembahasan saya bukanlah utamanya tertuju pada sesatnya yayasan Ihyaa At-Turoorts, akan tetapi apakah bermu’amalah dengan yayasan tersebut menjadikan seseorang otomatis menjadi sesat?? Sururi?? Hizbi?? Mubtadi’??. Itu yang saya bahas.”

 

Tanggapan

Saya tidak pernah memaksa Ustadz Firanda agar mengikuti Kami untuk men-tahdzir Ihyâ` At-Turâts sebagaimana Ustadz-Ustadz -yang dahulu pernah aktif di Ma’had Jamilurrahman dan pernah menasihati Ustadz Firanda tentang Ihyâ` At-Turâts- tidak pernah memaksa Ustadz Firanda untuk mengikuti pendapat mereka. Justru yang terjadi adalah sebaliknya, Ustadz Firanda-lah yang mengebu-gebu dalam membela Ihyâ` At-Turâts dan menyamarkan kesalahan-kesalahan besar yang terjadi di tengah mereka.

Saya bersama beberapa ikhwan yang datang dari Indonesia pernah berjumpa dengan sejumlah mahasiswa Jamî’ah Islamiyyah Madinah -seingat Saya adalah bahwa hampir seluruh mahasiswa pasca sarjana hadir, kecuali Ustadz Firanda-, di rumah Syaikh Muhammad bin Hâdy Al-Madkhaly hafizhahullâh. Kala itu terjadi pembahasan beberapa masalah, yang di antaranya adalah pembahasan tentang Ihyâ` At-Turâts, suatu hal yang tidak meninggalkan keraguan lagi akan bahaya dan ke-hizbiyah-annya. Syaikh Muhammad juga menyinggung tentang Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-‘Abbâd hafizhahullâh yang kadang memberi ceramah di markaz Ihyâ` At-Turâts. Syaikh Muhammad telah menyebutkan ketidaksetujuan beliau terhadap sikap Syaikh Abdurrazzaq tersebut di depan ayah Syaikh Abdurrazzaq sendiri, yaitu Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbâd hafizhahullâh. Syaikh Muhammad berkata, “Bersama dengan itu, kami adalah satu jari yang tidak terpisah.”[15]

Demikianlah ulama Sunnah menyikapi dan mendudukkan kesalahan tatkala orang yang melakukannya karena suatu ijtihad yang diberi udzur, bukan karena hawa nafsu dan hizbiyah.

Syaikh Abdurrazzaq hafizhahullâh maupun ayah beliau yang mulia, Syaikh Abdul Muhsin hafizhahullâh, tidak pernah marah terhadap siapa saja yang menjelaskan kesalahan dan penyimpangan Ihyâ` At-Turâts.

Tentunya hal itu sangatlah jauh berbeda dengan Ustadz Firanda.

Sekitar lima tahun silam atau lebih, Saya pernah mendapat panggilan telepon dari Syaikh Muhammad bin Ramzân Al-Hâjiry hafizhahullâh -beliau adalah seorang Salafy, demikianlah yang kami ketahui dari beliau, Wallâhu Hasîbuhu- tentang kedatangan Ustadz Firanda bersama sebagian orang Indonesia yang mengunjungi beliau. Lagi-lagi, Ustadz Firanda mempermasalahkan Ihyâ` At-Turâts dan menyinggung Kami yang men-tahdzir Ihyâ` At-Turâts. Beliau bercerita bahwa beliau bertanya kepada Ustadz Firanda dengan tutur baik sangka seorang Salafy, “Apakah para ikhwan itu men-tahdzir Ihyâ` At-Turâts dengan haq (kebenaran) atau tanpa haq?” Ternyata Ustadz Firanda menjawab, “Dengan haq.” Maka Syaikh Muhammad bin Ramzân menyatakan, “Selama mereka berbicara dengan haq, ada apa Engkau marah?”

Demikianlah seharusnya seorang Salafy bersikap tatkala kebatilan dan kesesatan diterangkan. Dia tidak akan marah dan tidak membantah. Itulah yang berjalan di tengah para ulama Salaf terdahulu.

Seorang lelaki pernah bertanya kepada Imam Abu Bakr bin ‘Ayyâsy rahimahullâh, “Siapakah seorang sunny ‘pengikut Ahlus Sunnah’ itu?” Beliau menjawab,

السُّنِّيُّ الَّذِي إِذَا ذُكِرَتِ الأَهْوَاءُ لَمْ يَغْضَبْ لِشَيْءٍ مِنْهَا

“Seorang sunny adalah orang yang apabila bid’ah-bid’ah dicela, dia tidak marah terhadap sesuatu apapun darinya.”[16]

Insya Allah, Saya akan memberikan data tambahan pada tempatnya tentang sebagian pemateri Rodja berkaitan dengan masalah Ihyâ` At-Turâts.

Inilah sebenarnya di antara hizbiyah Ustadz Firanda dan siapa saja yang bersepakat dengannya sehingga Saya dan asatidzah lainnya men-tahdzir mereka. Makar dan tipu daya itulah yang kerap mewarnai Ustadz Firanda.

Guru kami, Syaikh Muqbil rahimahullâh, selalu mengulangi kalimat ke telinga murid-muridnya, “Tanda hizbiyyah ada tiga: makar, tipu daya, dan kedustaan.”

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla memberi hidayah kepada mereka.

 

 

Kesembilan: Sangkaan bahwa men-tahdzir Rodja Berarti Membenci dan Memusuhi Rodja

Juga, salah satu akal pendek Ustadz Firanda adalah sangkaannya bahwa men-tahdzir Rodja adalah menandakan kebencian dan permusuhan. Ini adalah sikap dari orang-orang awan dan tidak mengenal manhaj Salaf.

Tentunya hal tersebut sangatlah berbeda dengan pandangan ulama Salaf.

Abu Shalih Al-Farrâ` pernah berkata: Saya menghikayatkan kepada Yusuf bin Asbâth suatu hal berupa perkara fitnah yang berasal dari Wakî’. (Yusuf bin Asbâth) berkata, “Dia itu menyerupai ustadznya -yakni Al-Hasan bin Shalih-.” Saya (Abu Shalih) berkata, “Tidakkah engkau khawatir hal tersebut menjadi ghibah?” (Yusuf bin Asbâth) berkata kepada,

لم يا أحمق، أنا خير لهؤلاء من آبائهم وأمهاتهم، أنا أنهى الناس أن يعملوا بما أحدثوا، فتتبعهم أوزارهم، ومن أطراهم كَانَ أضر عليهم

“Mengapa, wahai orang dungu! Saya lebih baik bagi mereka daripada ayah-ayah dan ibu-ibu mereka. Saya melarang manusia untuk mengerjakan seperti sesuatu yang mereka ada-adakan, (agar) dosa-dosa (pengikut) mereka tidak menyambung kepada mereka. Siapa saja yang memuji mereka, itulah yang membahayakan mereka.”[17]

Dari ‘Âshim Al-Ahwal, beliau berkata, “Saya duduk kepada Qatâdah. Beliau menyebut ‘Amr bin ‘Ubaid, lalu membicarakan dan mencela (‘Amr). Saya berkata, ‘Wahai Abul Khaththâb (Qatâdah), janganlah Saya melihat para ulama. Sebagian mereka mencela sebagian yang lain.’ (Qatâdah) berkata,

يا أحول أولا تدري أن الرجل إِذَا ابتدع بدعة ينبغي لها أن تذكر حتى يحذر

“Wahai Ahwal, tidakkah engkau tahu bahwa seorang lelaki, apabila melakukan suatu bid’ah, patut disebut bid’ahnya agar dia di-tahdzir?”[18]

Imam Asy-Syâthiby rahimahullâh berucap indah dalam menjelaskan maksud pensyariatan serta pertimbangan mashlahat dan mafsadat dari atsar di atas. Beliau bertutur, “Orang-orang seperti mereka mesti disebutkan dan dibuat (agar manusia) lari darinya. Sebab, kalau mereka dibiarkan, bahaya yang kembali terhadap kaum muslimin adalah lebih besar daripada bahaya yang terjadi karena menyebut mereka dan membuat lari dari mereka, jika sebab meninggalkan penyebutan takut terjadi perpecahan dan permusuhan. Tidaklah diragukan bahwa “perpecahan antara kaum muslimin dan para penyeru kepada bid’ah semata bila (tahdzir) ditegakkan terhadap mereka” adalah lebih ringan daripada “perpecahan antara kaum muslimin dan para penyeru (kepada bid’ah) beserta pendukung dan pengikutnya. Apabila diperhadapkan pada dua bahaya, yang dijalani adalah yang teringan dan termudah (di antara kedua)nya. Sebagian dari suatu kejelekan adalah lebih mudah daripada seluruh (kejelekan itu). Seperti memotong tangan yang berulat, mengorbankan (tangan) itu adalah lebih ringan daripada mengorbankan jiwa. Inilah keadaan syariat selama-lamanya. Hukum yang ringan dibuang untuk menjaga yang lebih berat …”[19]

Pokok kenikmatan yang hendaknya kaum muslimin diajak kepadanya adalah mengenal keislaman dan Sunnah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam.

Banyak firqah-firqah menyimpang yang berbangga dengan hasil dakwah mereka. Banyak pula manusia yang sebelumnya bermaksiat, tetapi kemudian gemar kepada ketaatan.

Bahkan, di antara tokoh-tokoh pendukung pemberontakan di Mesir, seperti Abu Ishaq Al-Huwainy, Muhammad Hassan, dan selainnya adalah orang-orang yang dikenal di tengah publik sebagai Wahhâby atau Salafy.

Demikian pula tokoh pendukung mereka dari luar Mesir, seperti Salman Al-‘Audah, ‘Aidh Al-Qarny, Muhammad Al-‘Arify, Abdul ‘Aziz Ath-Tharîfy, Nashir Al-‘Umar, Abul Hasan Al-Ma`riby dan selainnya, adalah orang-orang yang biasa tampil di televisi, bahkan sebagian mereka memiliki stasiun televisi. Di depan publik, semuanya dikenal sebagai penyeru kepada tauhid dan anti kesyirikan.

Akan tetapi, lihatlah bagaimana hasil mendiamkan orang-orang yang menyimpang: pembolehan melakukan kudeta sehingga menimbulkan bencana yang berkepanjangan di tengah kaum muslimin.

Orang-orang yang kurang akal seperti Ustadz Firanda memang akan sulit memahami keagungan syariat membela agama dari segala penyimpangan sehingga tahdzir terhadap kesalahan-kesalahan jelas Rodja ditanggapi sangat jelek oleh Ustadz Firanda dengan ucapan, “Tuduhan ngawur tanpa bukti dan dipaksa paksakan, atau mengkait-kaitkan dengan paksa terhadap takfiriyin dan yang lainnya, atau memaksakan pendapat masalah khilafiyah.”

Sikap Ustadz Firanda ini mirip dengan sikap Al-Hasan bin ‘Umarah Al-Bajaly tatkala di-jarh keras oleh Amirul Mukminin dalam hadits Imam Syu’bah bin Hajjâj Al-Bashry rahimahullâh. Ibnu Hibbân Al-Busty rahimahullâh menyebutkan ucapan-upacan ulama tentang Al-Hasan bin dalam kitab Al-Majrûhîn, di antara mereka adalah Syu’bah yang men-jarh Al-Hasan dengan celaan yang sangat keras. Tatkala ucapan Syu’bah sampai kepada Al-Hasan, Al-Hasan berkata, “Seluruh manusia berada dalam kehalalan dariku (dalam mencelaku), kecuali Syu’bah. Sesungguhnya Saya tidak menjadikan dia dalam kehalalan hingga Saya dan dia berdiri di depan Allah ‘Azza wa Jalla, kemudian Allah menghukumi antara Saya dan dia.”

Pelajaran berharga yang ingin Saya tunjukkan di sini adalah ucapan Ibnu Hibbân rahimahullâh yang penuh dengan akal, kebijaksanaan, dan pemahaman mendalam terhadap sendi-sendi agama. Ibnu Hibbân menerangkan sebab yang menjadikan Syu’bah berbicara keras terhadap Al-Hasan, dan beliau menjelaskan bahwa kesalahan memang berasal dari Al-Hasan Al-Bajaly. Kemudian Ibnu Hibbân berkata, “Saya berharap agar Allah ‘Azza wa Jalla mengangkat derajat Syu’bah di surga dengan berbagai derajat yang tidak dicapai oleh selain beliau, kecuali siapa saja yang berbuat seperti perbuatan beliau, karena pembelaan beliau (yang menolak) kedustaan dari (hadits Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam) yang Allah kabarkan bahwa (Rasulullah) tidaklah berucap dari hawa nafsunya. Ucapan (Rasulullah) itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepada Rasulullah).”

Demikian pula Saya berharap agar Allah Subhânahu wa Ta’âlâ membalas jasa ulama terdahulu dan belakangan yang membela Sunnah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan men-tahdzir penyimpangan orang-orang yang menyimpang serta menyelamatkan umat dari kehancuran. Sebagaimana Saya mendoakan seluruh Ahlus Sunnah, dari kalangan orang-orang yang berilmu di Indonesia, yang memberi jasa baik kepada umat dengan memperingatkan mereka dari bahaya dan pemikiran-pemikiran hizbiyah serta segala bentuk kesesatan berupa keyakinan, ucapan, maupun amalan.

Semoga Allah Ta’âlâ memberi taufiq kepada Kita semua menuju kepada jalan yang lurus.

 

Berangkat dari seluruh hal itu, Saya tidak akan mendiamkan pemikiran-pemikiran Ustadz Firanda yang membahayakan umat dan manhaj Salaf.

Insya Allah, Saya akan menjelaskan kenistaan pemikirannya dalam sejumlah tema pembahasan:

1. Dosa Firanda terhadap Ilmu dan Ulama

2. Membela Prinsip Ahlus Sunnah Seputar Pembahasan Iman

3. Penyimpangan Firanda Seputar Manhaj Muwâzanah

4. Mengupas Pemikiran Firanda Seputar Hajr, Tahdzir, dan Menyikapi Kesalahan

5. Firanda dan Pembelaan terhadap Ihyâ` At-Turâts

6. Memeriksa Orang-Orang Bermasalah yang Dibela oleh Firanda

7. Tuduhan Haddadiyah terhadap Orang yang Mengkritik dengan Haq

8. Harga Kedustaan di sisi Firanda

9. Mengharuskan Pendapat yang Tidak Diucapkan oleh Pengkritiknya

10. Firanda dan Menimbang dengan Dua Timbangan

Pada akhir tulisan bagian pertama ini, Saya meminta maaf kepada seluruh pembaca berkaitan dengan sebagian bahasa yang agak tegas dalam tulisan ini dikarenakan oleh “penyakit” dan syubhat Ustadz Firanda yang tergolong “kronis” sehingga Saya perlu memberi “dosis tinggi” agar mencocoki kerusakan yang dia timbulkan.

Allah Maha Mempunyai hikmah dalam setiap ketentuan-Nya. Baru hari-hari ini Saya berkesempatan untuk membuat tulisan ini dikarenakan oleh perjalanan haji yang belum lama berakhir. Saya bersyukur akan segala karunia dan taufiq-Nya sehingga, di sela-sela keterlambatan penulisan ini, terdapat banyak hikmah dan pelajaran.

Pada awal dan akhir tulisan ini -insya Allah, itu pula yang akan Saya lakukan pada tulisan-tulisan mendatang-, Saya bersujud dalam shalat kepada Allah, dengan harapan agar Saya diberi keikhlasan dalam setiap ucapan dan amalan, serta menjadikan tulisan ini sebagai hal yang meninggikan agama, menjaga manhaj Salafy, dan membela ulama umat. Sebagaimana Saya sangat memohon agar tulisan ini bisa membuka hati siapa saja yang dibantah dan mengembalikan mereka kepada jalan yang lurus, serta agar tulisan ini menjadi pedoman bagi pembacanya untuk mengenal manhaj Salaf yang mulia. Amin, Yâ Rabbal Âlamîn.



[1] Dikeluarkan oleh Ahmad, Al-Bukhâry dalam Al-Adab Al-Mufrad, Abu Dawud, At-Tirmidzy, dan selainnya dari Abu Hurairah radhiyallâhu ‘anhu. Dihasankan oleh Syaikh Al-Albâny rahimahullâh dalam Ash-Shahîhah no. 935.

[2] Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim.

[3] Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry dan Muslim -ini adalah konteks beliau-.

[4] Demikianlah makna ucapan beliau rahimahullâh.

[5] Diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqy dalam Al-Madkhal Ilâ As-Sunan Al-Kubrâ` 2/184-185 no. 679.

[6] Raudhatul ‘Uqalâ` hal. 56.

[7] Madârijus Sâlikîn 2/201.

[8] Diriwayatkan oleh Al-Baihaqy dalam Syu’abul Îmân 13/349 no. 10468, tetapi bait pertama Kami ambil dari nukilan Ad-Damîry dalam kitab Hayâtul Hayawân hal. 67 dan selainnya.

[9] Tabyîn Kâdzib Al-Mufrarî 1/29.

[10] Raudhatul ‘Uqalâ` karya Ibnu Hibbân hal. 53.

[11] Diriwayatkan oleh Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah wa Jamâ’ah 1/142-143 no. 288.

[12] Jâmi’ Bayân Al-‘Ilm wa Fadhlihi 1/570 no. 963.

[13] Jâmi’ Bayân Al-‘Ilm wa Fadhlihi 1/570 no. 967.

[14] Demikianlah tulisan perdananya dalam membela Rodja.

[15] Demikianlah makna ucapan beliau.

[16] Diriwayatkan oleh Al-Âjurry dalam Asy-Syarî’ah no. 2041 (tahqiq Hâmid Al-Faqy) dan Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah wal Jamâ’ah 1/65 no. 53.

[17] Diriwayatkan oleh Al-‘Uqaily dalam Adh-Dhu’afâ` 1/251. Disebutkan pula oleh Al-Mizzy dalam Tahdzîbul Kamâl pada biografi Al-Hasan bin Shalih bin Hayy.

[18] Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Âdy dalam Al-Kâmil 6/175, Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 2/355, Al-Lâlakâ`iy dalam Syarh Ushûl I’tiqâd Ahlis Sunnah 1/136 no. 256, 2/738-739 no. 1372, 2/748 no. 1395.

[19] Al-I’tishâm 2/731 tahqiq Al-Hilâly.