Beberapa Masalah berkaitan dengan Sholat Berjama’ah

  1.  Dalam sholat berjama’ah mana yang lebih utama untuk dikerjakan oleh makmum, sholatnya (kaifiyatnya) sama dengan sholatnya imam atau sholatnnya sesuai dengan sunnah yang dia ketahui walaupun kaifiyatnya berbeda dengan kaifiyat sholatnya imam ?
  2. Dalam sholat jama’ah yang bacaannya dikeraskan, mana yang lebih utama dikerjakan oleh makmum, dia membaca Al-Fatihah saat imam membaca surah lainnya atau menyimak saja (tidak membaca apa-apa sesuai dengan QS. Al-A’raf : 204).
  3. Apakah ada dalil/riwayat yang shohih untuk perbuatan makmum yang mengoreksi bacaan imam yang salah ?.
  4. Mengenai shaum sunnah, apakah boleh melakukan shaum Ayyamul Bidh (tgl 13, 14 dan 15) berdasarkan kalender Hijriah yang sudah dicetak untuk setahun (berdasar Hisab) ?.

Jawab :

Berikut ini jawaban dari pertanyaan di atas secara berurut sesuai dengan urutan pertanyaan :

Satu : Dasar pegangan dalam masalah ini adalah hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam yang berbunyi :

إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ

“Sesungguhnya dijadikannya imam hanyalah untuk diikuti”. (HR. Al-Bukhary dan Muslim dari Anas bin Malik, riwayat Al-Bukhary dari ‘Aisyah dan riwayat Muslim dari Abu Musa)

إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَلَا تَخْتَلِفُوْا عَلَيْهِ

“Sesungguhnya dijadikannya imam hanyalah untuk diikuti, maka janganlah kalian berselisih terhadapnya”.

Menurut Imam Nawawy, hadits di atas berkaitan dengan amalan-amalan yang zhohir (nampak) dilakukan oleh imam karena itulah disebutkan rukuk dan selainnya sebagai contoh mengikuti gerakan imam.

Namum tentunya hadits di atas tidaklah berlaku secara umum, sebab dimaklumi bersama bahwa ada beberapa amalan imam yang makmun tidak mengikutinya seperti ketika imam membaca Sami’allahu liman hamidah maka makmun membaca Rabbana wa lakal hamdu, dan lain-lainnya.

Demikian pula kewajiban mengikuti imam dalam hadits  di atas dikhususkan oleh hadits Malik bin Al-Huwairits riwayat Al-Bukhary, dimana Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :

صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ

“Shalatlah kalian sebagai kalian melihatku melakukan sholat”.

Maka berdasarkan hadits ini seseorang melakukan sholat menurut apa yang ia yakini bahwa itu adalah tuntunan sholat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam walaupun berbeda dengan imam.

Seperti kalau imam melakukan qunut shubuh maka hal tersebut tidak boleh diikuti karena qqunut shubuh adalah bid’ah dan bertentangan dengan tuntunan sholat Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam sehingga seharusnya ia melakukan sholat sebagaimana dengan tuntunan sholat Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam yang ia yakini yaitu tidak ikut qunut bersama imam.

Demikian pula misalnya bila imam berpendapat bahwa pada saat I’tidal seorang yang sholat kembali bersedekap maka makmun yang berkeyakinan bahwa pada saat I’tidal tidak sedekap maka ia I’tidal dengan tidak sedekap sesuai dengan keyakinannya. Wallahu A’lam.

Dua : Pendapat yang paling kuat dalam masalah apakah makmun tetap membaca Al-Fatihah atau hanya sekedar menyimak di belakang imam ketika sholat yang bacaannya dikeraskan adalah tetap membaca Al-fatihah. Dan insya Allah pembahasan terperinci tentang hal ini akan diuraikan dalam majalah An-Nashihah ini pada waktu mendatang.

Tiga : Syaikh Ahmad bin Ibrahim bin Abil ‘Ainain dalam kitab beliau yang berjudul As-Sirajul Mubin fi Ahkami Shalatil Jama’ah wal Imami wal Ma`mumin hal. 81-84 membahas masalah tersebut dengan baik. Dan kesimpulannya bahwa membetulkan bacaan Imam yang salah atau mengingatkan ayat-ayat yang terlupa atau tertinggal merupakan perkara yang disunnahkan menurut pendapat kebanyakan ulama. Pendapat tersebut dihikayatkan oleh Ibnul Mundzir dari ‘Utsman bin ‘Affan, ‘Ali bin Abi Tholib, Ibnu ‘Umar, ‘Atho`, Al-Hasan, Ibnu Sirin, Ibnu Ma’qil, Nafi’ bin Jubair, Abu Asma` Ar-Rahaby, Malik, Asy-Syafi’iy, Ahmad dan Ishaq.

Dan Syaikh Ahmad menyebutkan beberapa dalil tentang hal tersebut, diantaranya adalah :

Hadits riwayat Ahmad 5/123, Al-Bukhary dalam Juz`ul Qira`ah (192) dan Ibnu Khuzaimah (1647) dari Ubaiy bin Ka’ab radhiyallahu ‘anhu beliau berkata :

صَلَّى بِنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ الْفَجْرَ وَتَرَكَ آيَةًَ فَجَاءَ أُبِيُّ وَقَدْ فَاتَهُ بَعْضُ الصَّلَاةِ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ نُسِخَتْ هَذِهِ الْآيَةُ أَوْ أُنْسِيْتَهَا قَالَ لَا بَلْ أُنْسِيْتُهَا

Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam sholat subuh (mengimami) kami dan beliau meninggalkan satu ayat. Lalu datanglah Ubaiy dan beliau telah luput sebagaian sholat. Maka tatkala (Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam) telah selasai maka (Ubaiy) berkata : wahai Rasulullah, apakah ayat ini telah dihapus atau engkau dibuat melupakannya?. Beliau menjawab : Tidak, bahkan aku dibuat melupakannya.

Dan diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ibnu Hibban dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata :

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ صَلَّى صَلَاةً فَقَرَأَ فِيْهَا فَلُبِّسَ عَلَيْهِ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ لِأُبَيِّ أَصَلَّيْتَ مَعَنَا؟ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَمَا مَنَعَكَ

“Sesungguhnya Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam melakukan suatu sholat lalu beliau membaca dan tersamarkan bagi beliau. Maka setelah beliau selesai, beliau berkata kepada Ubaiy : Apakah engkau sholat bersama kami? Ia menjawab : Iya. Maka beliau bersabda : apa yang menahan kamu (untuk mengingatkan yang tersemar tersebut,-pent.)”. (Hadits ini menurut Abu Hatim Mursal, namun Syaikh Ahmad menyebut beberapa jalan yang menguatkannya).

Wallahu Ta’ala A’lam.

Empat : penentuan masuknya bulan dalam syari’at Islam hanya dengan cara rukyat hilal. Karena itu penentuannya dengan menggunakan hisab adalah bid’ah yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi dan shohabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dan juga penentuaan dengan hisab itu bertentangan dengan hadits-hadits shohih yang menerangkan penetuan masuknya bulan dengan cara rukyat hilal. Berdasarkan hal ini maka tidak boleh melakukan puasa dengan penentuan hisab. Wallahu A’lam.

Sumber : Risalah Ilmiyyah An-Nashihah, Pertanyaan (www.an-nashihah.com)